Kes Kalimah Allah – Perhimpunan Bantah Keputusan Hakim December 31, 2009
Posted by membelaislam in Kes Kalimah Allah.1 comment so far
TERKINI !!!
Kami menerima beberapa pesanan ringkas SMS berbunyi:
Seruan untuk hadir ramai-ramai di Masjid Wilayah, Jalan Duta, esok 1hb Jan 2010, selepas solat Jumaat bagi sama-sama menunjukkan kepekaan dan bantahan saudara terhadap keputusan hakim Lau Bee Lian yang membolehkan majalah Katolik Herald mengguna perkataan “Allah”. Ramai-ramailah kita hadir bagi menyatakan bantahan anda secara aman.
Kami tidak dapat mengesahkan penganjurnya namun dirasakan perlu untuk menyampaikan seruan ini atas kepekaan kita terhadap keputusan yang sangat tidak disenangi oleh kita umat Islam seluruh Malaysia dan juga suatu keputusan yang bakal membawa pelbagai implikasi negatif.
________________
Mahkamah Putuskan Majalah Katolik Herald Boleh Guna Perkataan ‘Allah’
KUALA LUMPUR, 31 Dis (Bernama) — Majalah mingguan Katolik, Herald, boleh menggunakan perkataan “Allah” dalam penerbitannya, Mahkamah Tinggi di sini memutuskan pada Khamis.
Mahkamah itu membuat keputusan bahawa setiap orang mempunyai hak berperlembagaan untuk menggunakan perkataan “Allah”.
Dalam keputusannya, Hakim Datuk Lau Bee Lan menegaskan bahawa Kementerian Dalam Negeri telah bertindak secara salah ketika mengenakan larangan penggunaan perkataan “Allah” dalam penerbitan mingguan itu.
– BERNAMA
Penangguhan Kes Kalimah ALLAH – ke hari Khamis 31hb Dis 2009 December 31, 2009
Posted by membelaislam in Kes Kalimah Allah.add a comment
URGENT MESSAGE – PLEASE HELP TO CIRCULATE AND FORWARD.
Dear Brothers & Sisters,
BismillahHirRahmanN irRahim. Assalamu alaikum w.b.t.
Mubarak Awal Muharam 1431 & Ma’al Hijrah 1431.
May Allah S.W.T.’s Blessings be showered on you and your family for A VERY HAPPY, HEALTHY AND PROSPEROUS NEW YEAR 2010 INSY ALLAH!
Kindly make every effort to attend the High Court Hearing Re “Kes Kalimah Allah” tomorrow, Thursday, 31st December, 2009 at 3.00 p.m. at the High Court, Jalan Duta, Kuala Lumpur.
MACMA Malaysia with the cooperation and kind assistance of JK Masjid Al- Muhsinin, Taman Desa, Off Jalan Kelang Lama, Kuala Lumpur have organized pada Malam Juma’at iaitu Hari Khamis, 31hb Disember, 2009 selepas Insya Sembahyang Hajat if judgement is postponed or if judgment is against us.
Insy Allah if judgement is in our favour, we will have doa selamat and sembahyang kesyukuran.
Suggested simple programme is as follows:
Sembahyang Magrib
Bacaan Yasin
Jamuan Makan Malam (Untuk 100 orang) di Karangan Masjid Mukhsinin yang akan diHos oleh MACMA Malaysia.
Sembahyang Insya diikuti dengan Sembahyang Hajat & Doa
Taklimat oleh Wakil Muslim Lawyers Association/ Peguam Syarie
Bersurai
Once again please lend us your much needed physical presence and your moral support both at the High Court, JALAN DUTA, KUALA LUMPUR as well as at the Masjid Mukhsinin, Taman Desa, Off Jalan Kelang Lama, KUALA LUMPUR.
KINDLY RELAY THIS URGENT MESSAGE AND INVITATION TO OTHER BROTHERS & SISTERS.
Wassalam!
Penangguhan Kes Kalimah ALLAH – ke hari Khamis 31hb Dis December 30, 2009
Posted by membelaislam in Kes Kalimah Allah.add a comment
SEGERA – URGENT!
Sila ambil maklum dan hebahkan kepada mereka yang ingin hadir hari ini Rabu 30hb Disember 2009 (Pronouncement of Judgement on the “KES KALIMAH ALLAH” at the High Court).
Pembacaan keputusan penghakiman kes kalimah Allah yang dihebahkan akan dibuat pada hari ini telah ditangguhkan ke esok Khamis 31hb Disember 2009 pukul 3.00 petang di Mahkamah Tinggi Sivil 2, Aras 4, Kompleks Mahkamah Jalan Duta.
Tolong hebahkan kepada yang lain.
Pronouncement of Judgement on the “KES KALIMAH ALLAH” at the High Court December 27, 2009
Posted by membelaislam in Kes Kalimah Allah.1 comment so far
Pesanan Presiden MACMA
Dear Brothers & Sisters,
BismillahHirRahmanN irRahim. Assalamualaikum w.b.t.
SELAMAT MENYAMBUT AWAL MUHARAM 1431 & MA’AL HIJRAH 1431.
WISHING YOU AND FAMILY A VERY HAPPY, HEALTHY AND PROSPEROUS NEW YEAR 2010 INSYA ALLAH.
I wish to take this opportunity to appeal for your personal as well as your members attendance at the forthcoming Pronouncement of Judgement on the “KES KALIMAH ALLAH” at the High Court, Jalan Duta, Kuala Lumpur Insya Allah on Wednesday, 30th December, 2009 at 2.30 p.m.
We need your physical presence and moral support to show Muslim solidarity against wanton attacks on the sanctity of Islam through the abuse of the Civil Court System.
Wassalam
Dato’ (Dr.) Haji Mustapha Ma
President MACMA MALAYSIA
Kamuflase Umat Kristiani di Indonesia December 23, 2009
Posted by membelaislam in Kes Kalimah Allah.Tags: Allah, dakwah, dakyah kristian, Indonesia, Kalimah Allah, kristianisasi, Nquib Al Attas
1 comment so far
Dalam beberapa hari ke depan, umat Kristiani akan merayakan hari raya mereka, yaitu hari raya Natal. Di Indonesia, agama yang dibawa ke tanah air oleh kaum kolonialis ini merupakan minoritas. Namun, mereka merupakan minoritas yang cukup besar pengaruhnya. Selain itu, upaya mereka yang sangat gigih dalam melakukan aksi misionaris terhadap umat Islam telah meningkatkan jumlah populasi mereka dari tahun ke tahun.
Tulisan ini ingin membahas salah satu aspek dari strategi umat Kristiani di Indonesia dalam upaya mereka mempengaruhi umat Islam. Tapi biarlah kami memulainya dengan sebuah cerita dari negeri tetangga.
Beberapa waktu yang lalu Malaysia sempat diramaikan oleh perdebatan tentang penggunaan kata ‘Allah’ di dalam Alkitab berbahasa Melayu. Kaum Muslimin, melalui beberapa tokohnya, mengkritik penggunaan kata ini oleh kalangan Kristiani. Penolakan ini disebabkan beberapa hal, antara lain karena kata ’Allah’ bukan merupakan terjemahan kata ’God’ yang digunakan oleh Bible berbahasa Inggris. Istilah Melayu untuk kata ’God’ adalah ’Tuhan.’
Jadi mengapa umat Kristiani begitu ngotot ingin menggunakan kata ’Allah,’ dan bukannya kata ’Tuhan’ di dalam Alkitab yang mereka gunakan?
Persoalan ini kembali ditanyakan oleh seorang peserta yang menghadiri kajian tentang worldview of Islam yang dibawakan oleh Prof. Naquib al-Attas di Kuala Lumpur hari Ahad malam, 13 Desember 2009. Saat ditanya pendapatnya tentang penggunaan kata ’Allah’ oleh umat Kristiani di Malaysia, Prof. Naquib dengan tegas mengatakan bahwa ia sudah menyikapi persoalan ini sejak beberapa tahun yang lalu. Ketika mendengar keinginan pendeta-pendeta Kristen di Malaysia untuk menggunakan kata ’Allah’ dalam Alkitab, maka beliau mengundang para pemimpin Kristiani dan petinggi negara untuk berdialog di lembaga yang beliau pimpin ketika itu, yaitu ISTAC.
Beliau bertanya kepada tokoh-tokoh Kristen tersebut mengapa mereka ingin menggunakan kata ’Allah.’ ”Karena kami ingin berdoa dalam bahasa Melayu,” jawab mereka. ”Tapi kata Melayu yang tepat untuk istilah God dalam Alkitab adalah istilah Tuhan,” sanggah Prof. Naquib. ”Selain itu,” lanjutnya, ”kata ’Allah’ bukan merupakan bahasa Melayu. It comes from a tradition that not belongs to you.”
Setelah menegaskan bahwa mereka seharusnya menggunakan kata ’Tuhan,’ Prof. Naquib menjelaskan bahwa kata itu pun pada akhirnya akan mengacu pada Allah. Karena Allah adalah Rabbul ‘Alamin, Tuhan alam semesta. Tidak ada yang bisa menghindar dari-Nya. Tapi kata ‘Allah’ tidak dapat dipergunakan oleh umat Kristiani karena mereka tidak menyifati-Nya sebagaimana mestinya. Allah tidak memiliki anak dan Dia tidak diperanakkan.
Jadi bagaimana mungkin umat Kristiani hendak menggunakan nama Allah tapi pada saat yang sama mengatakan bahwa Dia mempunyai anak, atau mengatakan bahwa Dia merupakan salah satu dari tiga oknum dalam trinitas? Ini sebabnya mengapa nama Allah tidak semestinya digunakan di dalam Alkitab.
Prof. Naquib mengkritik sikap pemerintah Malaysia yang sempat memutuskan untuk membawa persoalan tersebut untuk diputuskan di dalam Mahkamah. Ini bukan urusan mahkamah, ini merupakan urusan umat Islam, karena nama Allah berasal dari tradisi mereka. Jadi apa hak mahkamah untuk membuat keputusan dalam persoalan ini?
Prof. Naquib tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana perkembangan persoalan tersebut lebih jauh di Malaysia, apakah orang-orang Kristen di sana tetap bersikukuh memaksakan keinginannya atau tidak. Bagaimanapun, hal ini membuat kami berpikir jauh tentang keadaan di tanah air. Betapa kaum Muslimin di Indonesia telah berkali-kali ‘kecolongan’ dalam persoalan ini.
Bukan hanya dalam penggunaan kata ‘Allah’ di dalam Alkitab, tetapi juga penggunaan berbagai istilah Islam oleh komunitas Kristiani di tanah air. Penulis cukup banyak mengetahui persoalan ini karena penulis sendiri selama lebih dari sepuluh tahun menjalani pendidikan di sekolah-sekolah Kristen dan banyak anggota keluarga penulis yang juga mengalami hal yang sama.
Kami menulis ini dengan sedikit rasa penyesalan mengapa tidak menulis persoalan ini lebih awal. Penyesalan menjadi bertambah besar karena heran melihat nyaris tidak adanya para ulama di Indonesia yang memiliki sikap tegas terkait dengan persoalan ini.
Kalangan Kristen di Indonesia sejak lama telah menggunakan kata ’Allah’ di dalam Alkitab mereka. Kata ini masuk dan menjadi mapan di dalam agama Kristen tanpa ada tantangan sama sekali dari kaum Muslimin. Mereka biasa menyebut ’Tuhan Allah’ di dalam doa-doa mereka. Hanya saja cari penyebutan mereka terhadap kata ini berbeda dengan kaum Muslimin. Mereka membacanya dengan bunyi ’Alah’, bukan sebagaimana lafadz yang digunakan dalam bahasa Arab.
Namun umat Kristiani di Indonesia tidak berhenti sampai di situ. Mereka juga menggunakan kata ’syafaat’ dalam tradisi mereka. Lima belas atau dua puluh tahun yang lalu, penulis sempat kaget saat melewati sebuah gereja di Kwitang menjelang perayaan Natal. Di sana terbentang sebuah spanduk dengan berisi ajakan merayakan hari Natal ‘dalam rangka mendapatkan syafaat …’. Apa yang mereka maksud dengan syafaat? Mereka jelas tidak mengambil istilah ini dari bahasa Yunani, Latin, ataupun bahasa Aramaic. Ini jelas bersumber dari bahasa Arab dan dari tradisi Islam.
Lalu atas tujuan apa mereka tiba-tiba menggunakan kata ini? Apakah karena mereka mengetahui bahwa kata ini memiliki posisi yang sangat penting di kalangan sebagian besar umat Islam Indonesia? Apakah dengan menggunakan kalimat ini mereka bermaksud mengecoh kaum Muslimin yang tidak mendalam ilmu agamanya dan hendak mengeksploitasi harapan mereka yang tinggi untuk mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dengan mengatakan bahwa Yesus juga memiliki syafaat?
Umat Kristiani di Indonesia juga menggunakan kata syahadat. Di sekolah-sekolah Kristen, setidaknya sebagiannya, murid-murid diajarkan doa syahadat. Belakangan ini kami juga mendapat informasi bahwa beberapa kalangan Kristen meniru kebiasan kaum Muslimin dalam mengucapkan insya Allah. Tapi bukannya mengucapkan kalimat yang sama, mereka mengubahnya menjadi insya Yesus. Apa sebenarnya yang diinginkan umat Kristiani Indonesia dengan semua ini?
Apakah mereka sudah tidak memiliki identitas yang jelas sampai kemudian tanpa rasa malu mengambil dari tradisi Islam? Apakah mereka sudah mengalami kebangkrutan sehingga terpaksa comot sana comot sini dan memakai milik orang lain – tanpa minta izin pula?
Selain hal di atas, ada persoalan lain dari penggunaan bahasa di Indonesia yang perlu dikaji ulang. Selama bertahun-tahun, ejaan bahasa Indonesia telah mengalami perubahan yang semakin menjauhkannya dari bahasa Arab dan Islam. Dulu kita menyebut ’ilmu hayat,’ kini kita menamainya ’ilmu biologi.’ Dulu kita menggunakan istilah ‘izin,’ kini ‘ijin’; dulu ‘alfabet’ kini ‘alpabet.’
Semua kata yang berasal dari bahasa Arab atau yang berbunyi ke-arab-araban dijauhkan dan diberi bunyi yang berbeda. Seorang kawan kami mengistilahkan ini sebagai ‘Krsitenisasi bahasa.’ Mungkin ini sebuah istilah yang berlebihan. Namun sama sekali tidak salah jika ini disebut sebagai ‘de-Islamisasi bahasa.’
Ustadz Rahmad Abdullah, almarhum, dengan sangat jeli mengamati digunakannya kata-kata tertentu yang bersumber dari Islam ke dalam bahasa sehari-hari, tapi dengan diberi konotasi negatif. Misalnya saja kalimat semisal ’gajinya telah disunat.’ Kata ’disunat dalam kalimat tersebut maksudnya jelas, yaitu dipotong secara semena-mena, atau dengan kata lain dikorupsi. Mengapa sebuah istilah yang mulia dalam Islam, yaitu sunat atau khitan, bisa digunakan dengan konotasi begitu buruk dalam bahasa Indonesia?
Kita juga sering mendengar istilah ’nafasnya senin-kamis’ yang mengacu pada kelemahan dan tidak adanya kekuatan. Mengapa menggunakan istilah senin-kamis? Semua orang tahu kalau hari Senin dan Kamis adalah hari disunahkannya kaum Muslimin berpuasa. Apa tujuan digunakannya kata-kata ini di dalam bahasa sehari-hari?
Ada banyak contoh-contoh lain di samping yang telah kami sebutkan di atas. Penulis memang tidak memiliki bukti untuk mengatakan bahwa contoh-contoh yang terakhir ini dilakukan oleh pihak Kristen. Yang jelas, kesalahan ada pada kaum Muslimin Indonesia sendiri karena mereka telah lalai dari hal ini. Karena itu, kaum Muslimin, khususnya para wartawan, jurnalis, dan penulis Muslim, perlu meneliti ulang dan membongkar kembali penggunaan istilah-istilah tertentu yang tidak pantas. Kaum Muslimin perlu menyusun ulang strategi bahasa mereka.
Kami ingin kembali pada upaya kalangan Kristiani yang dapat dilihat secara langsung wujudnya. Selain yang telah disebutkan pada bagian awal tulisan ini, kita masih menemukan berbagai hal yang mereka lakukan. Kini mereka bukan hanya mengambil istilah ‘Allah’ dan beberapa istilah kunci lainnya, mereka juga menggunakan istilah tilawatil Injil dan membuat kaligrafi bahasa Arab dengan muatan nilai-nilai Kristen.
Mereka juga dengan bangga menyiarkan komunitas orang-orang Betawi yang telah masuk Kristen lengkap dengan pakaian tradisional mereka: sarung, baju koko, dan peci untuk yang pria, dan kebaya serta kerudung untuk yang wanita. Sebaiknya umat Islam bersiap-siap. Mungkin tidak lama lagi mereka akan mulai membaca ‘tahlil’ dan merayakan ‘maulid.’ Naudzu billahi min dzalik.
Hal ini membuat kami bertanya, apakah mereka sudah tidak merasa sungkan lagi melakukan kamuflase secara terang-terangan? Selain itu kami juga ingin bertanya, apakah umat Kristiani di Indonesia sama sekali sudah tidak menghargai orisinalitas dalam agama mereka sendiri? Apakah mereka sudah tidak memiliki harga diri sehingga menempuh cara-cara semacam ini dalam beragama?
Sebetulnya praktek-praktek semacam ini sama sekali bukan hal yang baru dalam agama Kristen sejak era Paulus (Saul of Tarsus). Paulus-lah yang telah mengalihkan ajaran yang dibawa Yesus kepada orang-orang Romawi, walaupun sesungguhnya Yesus (Nabi Isa) mengkhususkan ajarannya kepada orang-orang Yahudi saja. Sejak itu agama Kristen mengadopsi berbagai kebiasaan dan tradisi masyarakat pagan agar agama yang mereka bawa ini bisa diterima oleh mereka, walaupun konsekuensinya adalah hilangnya orisinalitas, identitas, dan karakter asal agama mereka.
Sejak itulah penganut Kristiani membolehkan orang tidak bersunat, padahal Alkitab sendiri menjelaskan betapa Yesus (Nabi Isa) tidak menyukai orang-orang yang tidak bersunat. Mereka menjadikan hari-hari suci kaum pagan sebagai hari suci mereka, antara lain tanggal 25 Desember (hari Natal) dan hari Minggu (Sunday atau harinya Matahari). Mereka juga mengalihkan pemujaan kaum pagan terhadap patung-patung dewa-dewi menjadi pemujaan terhadap patung-patung salib, Yesus, dan Bunda Maria. Jadi tidak heran jika hal itu kini juga dilakukan di Indonesia.
Kami tidak mengangkat persoalan ini dengan maksud supaya para pembaca dan kaum Muslimin secara umum menjadi marah dan bersikap emosional, atau mengamuk dan menimpakan sesuatu yang buruk kepada umat Kristiani. Karena bukan seperti itu tuntunan Islam. Tapi kita, khususnya para ulama, perlu mengkaji ulang persoalan ini secara mendalam. Kita perlu mengangkat persoalan ini ke permukaan, menanyakan langsung kepada tokoh-tokoh Kristiani apa yang menjadi tujuan mereka dengan melakukan ini semua.
Kita perlu menegaskan kepada mereka bahwa mereka tidak berhak dan tidak sepatutnya mengambil apa-apa yang berasal dari tradisi Islam.
Barangkali bagi umat Kristiani orisinalitas dan identitas sama sekali tidak penting, tapi kita mesti menjelaskan bahwa bagi kaum Muslimin keduanya sangat penting. Kalaupun umat Kristiani telah jatuh miskin dan bangkrut sehingga kehilangan perbendaharaan dari tradisi mereka sendiri dan karenanya ingin mengambil dari tradisi lain, maka silahkan mereka mengambilnya dari tradisi selain Islam. Silahkan mereka meminjamnya dari Hindu, dari Budha, dari Yahudi, atau dari tradisi agama lainnya (itupun kalau masing-masing agama itu mengijinkan).
Tapi jangan mengambil dari tradisi Islam. Hal ini bukan karena kaum Muslimin pelit atau bakhil. Tetapi karena pada setiap perbendaharaan tradisi itu ada hak dan posisinya sendiri yang telah diatur di dalam Islam. Ketika istilah-istilah tersebut diambil dan dimasukkan dalam kerangka ajaran Kristen, maka posisinya telah menjadi jauh berubah dan hak yang dimilikinya telah tercerabut dari nilai yang sesungguhnya. Dan ini merupakan suatu kezaliman. Dalam Islam, sesuatu yang tidak ditempatkan sebagaimana mestinya merupakan suatu kezaliman. Semakin besar kesenjangannya, maka semakin besar juga kezalimannya.
Biar kami pertegas lagi persoalannya supaya lebih jelas. Umat Kristiani menggunakan kata ’Allah’ di dalam Alkitab. Ini merupakan kata yang sepenuhnya bersumber dari tradisi Islam dan sama sekali tidak ada dalam tradisi Kristen. Dalam ajaran Islam, Allah itu Esa. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tapi kata ’Allah’ dimasukkan ke dalam Alkitab dan pada saat yang sama dijelaskan bahwa ’Allah’ mempunyai anak atau ’Allah’ merupakan salah satu dari tiga oknum pada trinitas. Ini merupakan sebuah penistaan dan kezaliman yang besar.
Dalam Islam syahadat merupakan sebuah kesaksian dengan formulasi utama berupa kesaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan kesaksian bahwa Nabi Muhammad merupakan utusan Allah. Tetapi umat Kristiani tidak mengakui Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam sebagai utusan Allah. Jadi bagaimana mereka hendak begitu saja meminjam istilah syahadat sambil melucuti maknanya. Ini adalah sebuah kezaliman.
Demikian juga dengan istilah syafaat. Dalam Islam, syafaat diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dan bukan oleh nabi-nabi yang lain, termasuk Nabi Isa ’alaihis salam. Apakah kalangan Kristen hendak mengambil kata ini sambil menyuruh manusia mengharapkan syafaat dari Yesus? Ini juga merupakan sebuah kezaliman.
Sekiranya mau menggunakan perbendaharaan kaum Muslimin boleh saja asalkan siap untuk menerima dengan segala pemaknaan serta keyakinan yang ada di dalamnya. Kalau tidak demikian maka janganlah mengambil sama sekali. Kalau umat Kristiani mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui persoalan ini, maka kini kita telah memberitahukannya, dan karenanya mereka harus mengembalikan kepada umat Islam dan segera kembali pada konsep-konsep dan terminologi mereka sendiri.
Kalau mereka melakukan dengan sengaja dengan tujuan untuk mengacaukan identitas kaum Muslimin dan dengan tujuan menciptakan kebingungan di tengah-tengah mereka, maka ini adalah sebuah kejahatan yang mesti dihentikan.
Tapi yang terpenting dari itu semua adalah kita mesti mendidik generasi kaum Muslimin supaya mereka memiliki pemahaman yang baik terhadap Islam dan supaya mereka memiliki ilmu agama yang memadai. Sekiranya kaum Muslimin memiliki ilmu yang cukup baik, maka mereka tidak akan mudah terkecoh dengan taktik dan kamuflase yang dilakukan oleh orang-orang diluar kelompok mereka.
Para dai dan ulama Islam perlu memberikan pendidikan lebih luas kepada kaum Muslimin, khususnya yang berada di pedesaan, serta mengangkat perekonomian mereka, supaya mereka tidak mudah terpedaya dengan bujuk rayu pihak lain. Ini merupakan sebuah tugas yang amat mendesak bagi kita semua. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan kepada kaum Muslimin dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang belum memahami kebenaran.
Kuala Lumpur, 14 Desember 2009
dipetik dari Tranungkite Online (http://tranungkite.net/) bersumber dari: http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/alwi-alatas-mahasiswa-phd-international-islamic-university-malaysia-kamuflase-umat-kristiani-di-indonesia.htm
Study: Muslims Feel They’re Being Shut Out of European Society December 17, 2009
Posted by membelaislam in Rights of Muslims.add a comment
The recent Swiss referendum vote to ban the building of minarets seems to confirm the trend of Europeans becoming increasingly strident in their attempts to “protect” their culture against Islam. However, a newly published report by the Open Society Institute (OSI), the think-tank set up by billionaire financier and philanthropist George Soros, details the complex relationship between Muslims and Europe and reveals that the suspicion is mutual. Muslims believe they are being shut out of European society.
About 20 million Muslims live in the European Union, mostly in capital cities and large industrial towns; they already make up 25% of the population in Marseilles and Rotterdam, 20% in Malmo, 15% in Brussels and Birmingham and 10% in London, Paris and Copenhagen. The report, published on Dec. 15, surveyed Muslims in 11 cities across the E.U., and found that 55% of respondents believed religious discrimination had risen in the past five years. And while many Muslims are a long-standing and integral part of the fabric of their cities, the report says they are still almost three times more likely to be unemployed than non-Muslims. But far from seeking out Islamic ghettos, many Muslim families appear desperately keen to integrate. “A lot of Muslims – especially parents – were sad they could not live in mixed neighborhoods, where they could experience diversity,” says Tufyal Choudhury, lead author of the report. (See pictures of Islam’s Soft Revolution.)
The findings echo earlier research revealing hostility towards Muslims and other minority groups. The Fundamental Rights Agency report was released on Dec 9. It was a survey of over 23,000 individuals from ethnic minority and immigrant groups about their experiences of discrimination, racist crime, and policing in the E.U. Minorities commonly face discrimination looking for a job, buying something from a shop or visiting the doctor, according to the FRA, which labeled as “shocking” the racist, anti-immigrant and Islamophobic experiences of minorities as they go about their daily lives. A 2004 study by Sorbonne sociologist Jean-FranÇois Amadieu found that a standard rÉsumÉ with a Muslim name was five times less likely to elicit an interview than the same rÉsumÉ with a non-Muslim name.
“We are still at the stage where there are raised suspicions towards Muslims,” says Sajjad Karim a British Muslim member of the European Parliament. “At airports, I quite often get treated differently to my colleagues, even though I hold a British passport.” (See the top 10 underreported stories of 2009.)
Such fears have boosted support for far right politicians such as the Netherlands’ Geert Wilders, whose Freedom Party (VVD) won 11% of the Dutch vote in last June’s European elections with an anti-Islam platform. The OSI report says the chilling political climate has alienated Muslims, often making them feel unwanted. Several European countries are tightening their immigration laws, imposing citizenship tests, and setting strict rules on wearing headscarves and burqas. Last week, reacting to the Swiss vote, French President Nicolas Sarkozy called on religious practitioners to avoid “ostentation” and “provocation” for fear of upsetting others.
Douglas Murray, director of the London-based Centre for Social Cohesion think-tank, insists European Muslims face the same discrimination as any newcomers. “All societies are unwelcoming to outsiders, but Europeans have been far more welcoming to Muslims than their critics allow,” he says. “The onus of these claims of discrimination always seem to go the same way: to show that Europeans are innately racist. Which is a gross insult.” (Read: “The Islamic Divide at Work: Advice for French Bosses.”)
Perhaps the most revealing aspect of the report may be the diversity of views within Europe’s Muslim populations. The OSI report reveals that most Muslims identify strongly with the city and country where they live. In Antwerp, for example, over 90% of respondents expressed a “very strong” or “fairly strong” sense of local belonging.
But the levels vary. The report says that Muslims may be better integrated in the United Kingdom than in other parts of the E.U.: an average 78% of Muslims identified themselves as British, compared with 49% of Muslims who consider themselves French and just 23% who feel German. (Read: “The March to the Far Right.”)
Many factors are thought to be behind this. France’s troublesome history with its colonies, such as Algeria, could explain the greater alienation of its Muslims, many descended from these colonies. Britain accommodates more cultural needs of its Muslim citizens than any other European country, for example, allowing Muslim policewomen to cover their hair with a headscarf. And in the Netherlands, recent controversies like the murder of the film-maker Theo van Gogh by a Muslim extremist have “convulsed public opinion”, making Muslim “scapegoats for public anxieties over security,” the report says. (Read: “Minaret Ban Challenges Tolerant Swiss Image.”)
Yet despite such variations, the OSI study reveals one common thread: Muslim citizens have much the same outlook as the rest of Europe. Like their neighbors, they care everything from education and housing to cleaner air and safer streets. And they want the same rights and opportunities. “Communities, regardless of faith, have largely the same concerns,” says report director Nazia Hussein. “Where they differ is how they are treated and viewed.”
Usah memperlekeh kedaulatan Mahkamah Syariah December 17, 2009
Posted by membelaislam in Constitution, Rights of Muslims.1 comment so far
Oleh Mohamad Isa Abd Ralip
petikan dari Berita Harian (Peguam Syarie Menulis:)
Umat Islam patut hormati sistem perundangan untuk tegakkan keadilan ikut al-Quran, sunnah
SEPERTI Mahkamah Sivil, Mahkamah Syariah hendaklah dihormati dan dipandang tinggi kerana kedua-duanya adalah institusi keadilan di negara ini walaupun sistemnya berlainan. Kita tidak boleh lari daripada hakikat negara mempunyai dua sistem perundangan berasingan.
Namun, adat segelintir umat Islam yang tidak yakin dan tidak menghormati Mahkamah Syariah dan disebabkan itu mereka tidak mengambil berat soal kehadiran ke mahkamah walaupun saman dikeluarkan bagi memastikan mereka hadir.
Ini diburukkan lagi apabila sesetengah keadaan perintah dikeluarkan Mahkamah Syariah dilanggar serta diperlekehkan pihak tidak bertanggungjawab terutama dalam kes membabitkan perintah pembayaran wang seperti perintah nafkah isteri, anak, edah dan mutaah.
Tanggapan ‘ala, perintah Mahkamah Syariah saja, bukan ke mana pun’ sepatutnya dihakis bagi menghilangkan pandangan negatif orang ramai terhadap Mahkamah Syariah.
Semua prosiding di Mahkamah Syariah dimulakan dengan saman seperti pengesahan lafaz cerai, tuntutan perceraian dan tuntutan lain melainkan mana-mana prosiding yang ditetapkan undang-undang dibuat melalui permohonan.
Apabila sesuatu saman difailkan, saman itu hendaklah disertakan dengan penyata tuntutan. Selepas saman difailkan, Pendaftar Mahkamah hendaklah memeriksa saman dan pihak menuntut (plaintif) membayar yuran ditetapkan. Pendaftar Mahkamah akan menandatangani, memeterai dan mengeluarkan saman itu.
Saman berserta penyata tuntutan yang menyatakan secara khusus bentuk tuntutan plaintif hendaklah diserahkan sendiri kepada pihak yang kena tuntut (defendan) oleh pegawai mahkamah atau orang dipertanggungjawabkan.
Apabila defendan menerima saman itu, defendan hendaklah hadir bersendirian atau melalui peguam yang dilantik mewakilinya pada hari kes ditetapkan mahkamah pada surat saman untuk menjawab tuntutan berkenaan. Undang-undang memperuntukkan secara jelas jika defendan tidak hadir ke mahkamah pada tarikh ditetapkan untuk sebutan kes, mahkamah boleh meneruskan perbicaraan sekali gus memutuskan atau memberikan penghakimannya.
Ia berlaku dengan syarat saman sudah diserahkan kepada defendan secara sempurna. Defendan yang menerima saman tidak boleh mengambil ringan soal ketidakhadiran kerana mahkamah mempunyai kuasa menjalankan perbicaraan, sekali gus mengeluarkan perintah membabitkan perceraian mahupun perintah pembayaran wang.
Jika defendan menerima saman tetapi enggan hadir ke mahkamah tanpa alasan munasabah dari segi undang-undang dan hukum syarak,
mahkamah mempunyai kuasa mengeluarkan waran tangkap yang dilaksanakan oleh polis atau pegawai penguatkuasa agama.
Mengikut Seksyen 51 (a) atau (b) Enakmen Tatacara Mal Mahkamah Syariah (Negeri Selangor) 2003, mahkamah mempunyai kuasa mengeluarkan waran untuk menangkap defendan dalam keadaan:
# Sama ada sebelum atau selepas pengeluaran saman oleh mahkamah tetapi sebelum mahkamah menetapkan tarikh sebutan kes. Di dalam keadaan ini mahkamah berpendapat ada alasan untuk mempercayai bahawa defendan sudah melarikan diri atau dipercayai tidak akan mematuhi saman itu;
# Dalam keadaan defendan sudah menerima saman tetapi tidak hadir ke mahkamah dengan tidak memberikan alasan munasabah.
Dalam keadaan pertama, mahkamah sebelum saman atau selepas saman dikeluarkan boleh mengeluarkan waran tangkap jika ada bukti menunjukkan defendan sudah melarikan diri atau ada alasan dan bukti jelas defendan memang tidak akan mematuhi saman itu.
Contohnya, defendan mengatakan kepada plaintif atau di hadapan saksi bahawa dia tidak akan hadir mahkamah walaupun menerima saman. Oleh kerana saman perlu diserahkan kepada defendan, mahkamah boleh mengeluarkan waran tangkap walaupun sebelum tarikh sebutan kes ditetapkan.
Merujuk keadaan kedua, jelas defendan sudah menerima saman tetapi tidak hadir ke mahkamah tanpa alasan munasabah yang boleh memuaskan hati mahkamah. Seseorang yang hadir ke mahkamah selepas kes disebut juga tidak dikira sebagai hadir atas rekod mahkamah.
Dalam keadaan itu waran tangkap boleh dikeluarkan mahkamah atas permohonan plaintif atau peguam syarie plaintif. Begitu juga seorang yang ada alasan tidak hadir seperti sakit, berlaku kematian tetapi tidak mengemukakan kepada mahkamah perkara itu.
Mahkamah tidak akan membenarkan pengeluaran waran tangkap jika semua pihak menghormati dan tahu tanggungjawabnya untuk hadir ke Mahkamah Syariah pada masa ditetapkan tanpa perlu dipaksa.
Sewajarnya, umat Islam wajar menghormati Mahkamah Syariah sebagai institusi keadilan dalam Islam termasuk menghadirkan diri ke mahkamah apabila diperintahkan.
Jika umat Islam tidak menghormati institusi perundangan syariah, siapa lagi yang akan menghormati dan memartabatkannya kerana mahkamah ini mendukung undang-undang syariah berasaskan keadilan di bawah neraca Allah.
Penulis ialah Presiden Persatuan Peguam Syarie Malaysia (PGSM)
Gereja Katolik Tidak Boleh Cabar Larangan Pengunaan Istilah Allah December 16, 2009
Posted by membelaislam in Kes Kalimah Allah.add a comment
petikan dari berita BERNAMA
KUALA LUMPUR, 14 Dis (Bernama) — Penerbit Majalah Mingguan Katolik Herald tidak boleh mencabar larangan Menteri Dalam Negeri mengenai penggunaan istilah Allah dalam penerbitannya, Mahkamah Tinggi diberitahu hari Isnin.
Peguam Kanan Persekutuan Datuk Kamaluddin Md Said berkata Menteri Dalam Negeri mempunyai kuasa untuk mengenakan larangan seperti itu sebagai syarat yang diselitkan dalam permit yang dikeluarkan di bawah Akta Mesin Cetak dan Penerbitan 1984.
“Permit yang diberikan di bawah akta itu perlu mengandungi syarat. Syarat itu adalah sebahagian daripada kandungan menyeluruh permit dan tidak boleh dibaca secara berasingan dan anda tidak mempunyai pilihan kecuali mematuhinya.
“Oleh itu, anda tidak boleh mencabar syarat yang dikenakan oleh menteri ke atas permit itu…anda hanya boleh mencabar jika menteri enggan mengeluarkan sebuah permit,” katanya ketika menjawab kes permohonan semakan kehakiman yang difailkan oleh Gereja Roman Katolik Kuala Lumpur mengenai penggunaan istilah Allah dalam penerbitannya.
Kamaluddin juga menyatakan bahawa akta merupakan salah satu perundangan dalam negara ini bagi mengawal kebebasan bersuara dan berucap seperti tertakluk dalam Perkara 10 Perlembagaan Persekutuan.
Pada 16 Feb lepas, Ketua Paderi Roman Katolik Kuala Lumpur, Tan Sri Murphy Pakiam, sebagai penerbit majalah itu, memfailkan permohonan untuk semakan kehakiman bagi menuntut satu deklarasi bahawa keputusan Menteri Dalam Negeri, melarang beliau menggunakan istilah Allah dalam majalah itu adalah haram dan perkataan itu bukan eksklusif bagi agama Islam.
Pada 7 Jan lalu, Menteri dalam Negeri meluluskan permit ‘The Herald’ dengan syarat penggunaan perkataan Allah dilarang dan perkataan ‘Terhad’ perlu dicetak di muka depan majalah tersebut, iaitu hanya diedarkan kepada penganut Kristian sahaja.
Menteri berkenaan melarang penggunaan perkataan Allah atas alasan keselamatan negara dan mengelak salah faham dan kekeliruan di kalangan orang Islam.
Kamaluddin, ketika berhujah, berkata perkataan Allah adalah eksklusif kepada agama Islam kerana ianya nama khas Tuhan orang Islam dan oleh itu kesuciannya perlu dilindungi.
“Dalam negara kita, sekiranya seseorang merujuk Allah atau menyebut kalimah Allah, ia akan membawa peringatan kepada Tuhan bagi orang Islam. Kalimah Allah adalah suci kepada orang Islam dan diletakkan pada kedudukan tertinggi dan kesuciannya perlu dilindungi,” katanya.
“Penggunaan kalimah Allah sebagai terjemahan perkataan Tuhan mungkin menyebabkan kekeliruan, sensitiviti agama dan merosakkan keharmonian antara orang Islam dan Kristian,” kata Kamaluddin, yang memetik ayat Al-Quran mengenai Allah yang bermaksud ‘Allah yang Maha Besar’.
Dalam pada itu, peguam pemohon, Porres Royan berkata Menteri Dalam Negeri telah bertindak secara tidak rasional dan tidak munasabah dengan melarang pemohon menggunakan perkataan Allah dalam majalah mingguan itu.
Katanya perkataan Allah tidak eksklusif kepada agama Islam kerana penganut Kristian dan Islam di negara-negara yang menggunakan bahasa Arab telah menggunakan perkataan Allah untuk sekian abad yang lama ketika merujuk kepada satu Tuhan.
Royan juga berkata di bawah akta itu, Menteri Dalam Negeri tidak mempunyai kuasa untuk mengenakan larangan kepada pemohon dan menteri berkenaan telah bertindak ‘ultra vires’ atau melebihi kuasanya dalam akta tersebut.
“Penerbitan itu adalah majalah Katolik mingguan dan untuk penyebaran berita dan maklumat mengenai Gereja Katolik di Malaysia dan ia tidak untuk orang awam khususnya kepada orang yang menganuti agama Islam.
“Terbitan ini tidak mengandungi sesuatu yang kemungkinan menyebabkan rasa bimbang, mencemaskan orang awam atau menyentuh sensitiviti agama Islam,” katanya.
Perbicaraan dihadapan Hakim Datuk Lau Bee Lan disambung esok.
– BERNAMA